Aku
benar – benar akan mati hari ini, sungguh. Dan tentu saja, itu bukan merupakan
aksi bunuh diri yang akhir – akhir ini sering terjadi. Aku rasa sejak hari itu,
nasib sial sudah mendarah daging di hidupku, makanya apapun yang aku lakukan
akan mengundang berbagai macam kesialan yang tidak masuk akal. Dan itu
berlanjut sampai hari ini!
“Soo Yoo shi, mana tugas yang saya
berikan minggu lalu?” Aku sudah tahu bahwa lambat laun pertanyaan ini akan
sampai padaku. Tapi aku tidak tahu kalau ternyata efek samping yang timbul akan
sehebat ini.
“Ah, ige.. Mianhamnida sonsaengnim,
saya sudah berusaha membuatnya, tapi otak saya tidak mau memberitahukannya
padaku” Lengkap sudah, aku bahkan bisa mendengar suara tawa satu kelas di ujung
gedung ini, suara tawa mereka benar – benar mengerikan, memangnya mereka tidak
pernah mengalami keadaan seperti ini apa, aku yakin mereka lebih buruk dariku.
Coba lihat wajah mereka, aku bahkan tidak yakin kalau mereka bisa membaca!
“Semuanya harap tenang!” Hong
sonsaengnim meminta anak – anak yang lain untuk menghentikan tawa yang pecah
karena ucapanku. Kemudian wajahnya kembali menatapku dengan raut wajah yang tak
terbaca. “ Soo yoo shi, saya memberikan tugas itu satu minggu yang lalu,
seharusnya kau mampu menyelesaikannya bukan?” Tanyanya dengan mata lurus
menatapku. Aku mendesah sebelum menjawab dengan alasan yang mungkin bisa
diterima oleh akal sehat, karena setahu ibuku apapun alasan yang aku buat akan
membuat orang lain terkena serangan jantung.
“Jeongmal mianhamnida sonsaengnim, saya akan segera
menyelesaikannya. Ini bukan masalah saya mampu atau tidak, tentu saja saya
mampu. Tapi selalu saja ada sesuatu yang harus saya kerjakan terlebih dahulu,
sehingga saya harus menunda membuat tugas tersebut, selain itu.. ”
“Jadi, bisakah kau menjelaskan “sesuatu” yang membuatmu
mengesampingkan tugas dari sekolahmu itu Soo Yoo shi?” Sela Hong Sonsaengnim.
Baiklah, itu mungkin memang kesalahanku sebagai seorang murid, apalagi murid
baru di sekolah yang menurut masyarakat adalah sekolah terbaik disini. Tapi apa
peduliku dengan status sekolahku, semuanya sama saja. “Emm, itu.. “ Cepat Soo
Yoo, cari alasan sebaik yang kau bisa, yang penting kau bebas dari situasi ini,
situasi dimana semua orang melihatmu sambil menahan tawa dan kasihan.
“Itu.. “ ulangku mencoba mencari lagi alasan, namun sebelum usahaku
nememukan titik keberhasilan tercapai, Sonsaengnim sudah angkat bicara yang
membuatku semakin merasa akan terjadi hal lebih buruk lagi padaku. Dan itu
benar.
“Besok kumpulkan 2 kali lipat essay yang saya minta, tulis dengan
tangan.” Ucap Sonsaengnim yang sontak membuat mataku membelalak tak percaya,
Besok? 2 kali lipat?! Tulisan tangan?!! Astaga, aku bisa membayangkan tanganku
akan lumpuh kalau melakukannya. Aku masih berusaha mencerna kata – kata
Sonsaengnim yang nyaris membuatku tumbang karena kaget. Ini salah, tunggu, ini
salah. “Sonsaengnim, aku tidak bisa menulisnya dalam satu malam, apalagi 2 kali
lipatnya, itu.. “ Gagapku mencoba mencari sedikit pertolongan pada Sonsaengnim
yang kini sudah berbalik arah membelakangiku menuju ke depan. Usaha yang aku
buat untuk mendapat sedikit keringanan justru membuatku semakin terbenam ke
dalam jurang kematian harga diri. “Benarkah? Kalau begitu 3 kali lipat.” Ucap
Sonsaengnim sambil menatapku tanpa ada rasa belas kasihan.
“Sonsaengnim, itu tidak adil! Kenapa jadi 3 kali lipat? 2 kali
lipat saja aku belum tentu selesai.. “
“4 kali lipat Soo Yoo shi. Masih kurang?” Jawab Sonsaengnim ringan.
“Ne???!!!” Jawabku seraya bangkit dari kursi, bisa aku lihat semua
murid memperhatikan aku yang sedang dalam keadaan mengenaskan, bahkan aku
mendengar salah satu murid tak tahan lagi menahan tawanya dan mulai terkikik
dengan tangan menutup mulutnya. Memangnya aku tuli, aku mendengarnya bodoh.
Baiklah, aku rasa aku harus menghentikan usahaku meminta keringanan tugas,
bukannya semakin ringan, tapi akan semakin berat jika diteruskan. Aku berfikir
seraya mengibas – kibaskan tangan saat membayangkannya. Cukup Soo Yoo, akhiri
sampai disini.
“Tidak Sonsaengnim, saya rasa 4 kali lipat su-dah sa-ngat cu-kup..”
Jawabku dengan memberikan tekanan pada kalimat terakhir. Sangat cukup untuk
membuatku mematahkan kelima jari, batinku.
“Bagus, saya rasa sekarang kita sudah bisa saling memahami Soo Yoo
shi.” Sonsaengnim menjawabnya dengan wajah tersenyum menatapku. Omo.. Sonsaengnim
lebih mengerikan dibanding dengan suara tawa anak – anak di kelas ini. Aku yang
masih dalam posisi berdiri, mengangguk sembari menarik kembali kursi untuk
duduk.
“Ne, geuresumnida Sonsaengnim..”
Hari ini untuk kesekian kalinya hal buruk datang meski aku sudah
berusaha untuk mengusirnya. Aku bukan anak yang akan diam saja meratapi nasib,
tapi semakin aku mencoba untuk memperbaiki nasib burukku, hal – hal yang lebih
buruk justru akan datang saat aku berusaha memperbaikinya. Jadi, akan lebih
baik kalau aku diam saja.
“Seharusnya kau terima saja tawaran terakhir, kau selalu saja
menawar, makanya Sonsaengnim lebih menambah tugasmu.“ Aku hanya mengangguk –
angguk mendengarkan Yoona yang sejak tadi menceramahiku dengan bahasanya yang
sedikit berlebihan. Melihatku yang hanya mengangguk tanpa memperhatikan, Yoona
melayangkan pukulannya dan mendarat tepat di kepalaku.
“Yaaa~! Itu sakit bodoh!” Protesku seraya mengelus – elus kepala
yang mulai berdenyut panas. “Tanganmu kecil, tapi entah kenapa saat memukul
bisa aku rasakan kekuatan besi yang muncul” imbuhku sambil menunjuk tangannya.
Dia yang tidak terima kembali mengangkat tangan mengacungkan kepalannya. Aku
hanya bisa mengangkat tangan untuk menyerah. “Eyy~ Aku hanya bercanda.”
“Kau memang tidak pernah serius.” Yoona menambahkan dengan nada
sarkastis. Aku hanya diam dan tak menanggapinya. Aku benci dengan sebuah
keseriusan, satu – satunya yang akan kau dapat setelah kau memutuskan untuk
serius dengan apapun yang kau lakukan adalah penyesalan. Tidak ada yang lain.
“Kau mau kemana? Jangan bilang kau mau bolos lagi? Soo Yoo ah~
Hentikan itu atau kau akan mendapat lebih banyak lagi tugas yang tidak kau
inginkan!” Selidik Yoona dengan setengah mengerang saat melihatku mengemasi
buku dan alat tulis ke dalam tas. Memang benar, tapi aku harus pergi. Aku hanya
menatapnya dengan mengacungkan jari telunjukku, memberikan kode diam pada Yoona
yang sekarang sudah mulai panik.
“Aku tidak mau tahu lagi kalau sampai ketahuan. Sudah berapa kali
aku melindungimu dengan alasan yang sama?” Tambahnya dengan wajah yang sudah
mulai berkeringat karena khawatir. Iya juga, aku selalu memintanya untuk
memalsukan alasan ketidakhadiran dengan alasan yang sama. “Kalau begitu carikan
alasan yang lain, aku mengandalkanmu.”
“Arkhg, Molla.. Terserah padamu saja!” Teriaknya kesal.
Aku terkikik pelan, menyambar tas di atas meja dan berlari
meninggalkan kelas. Aku melirik jam di pergelangan tangan, Sial, aku akan
telat.
----------------------------
Point Of View : Lee
Gi Kwang
“Gi Kwang ah~ Cepat bangun!” Aku bisa mendengar Dujun hyung mencoba
membangunkanku sejak 15 menit yang lalu. Aku sangat yakin dia sudah mulai naik
pitam karena aku tak kunjung beranjak dari tempat tidur. Tapi mau bagaimana
lagi, sekarang aku benar – benar tidak ingin pergi latihan, rasanya tulangku
sudah mencapai batas kemampuannya. Aku baru saja tidur 1 jam yang lalu!
“Aish.. Cepat bangun atau aku akan menyeretmu!” Tangan Dujun hyung
mulai menarik selimut yang menutupku, aku mencoba tetap mempertahankan
keadaanku yang berada dalam selimut, tangannya semakin kuat menarik, mencoba
meraih lenganku agar keluar. Aku semakin beringsut ke dalam selimut, namun
sekarang ada banyak tangan yang mencoba menarikku untuk keluar. Tangan – tangan
itu mulai menarik lengan, kaki dan tubuhku. Tangan yang paling besar mencoba
menggelitikku, sekarang aku merasa geli disekujur tubuh, semakin aku mencoba
untuk melepaskan diri, gelitikan itu semakin terasa.
“Andwe! Andwe!” Erangku seraya menendangkan kaki ke segala arah,
namun bukannya menjauh, sekarang aku merasa tertimpa ratusan karung beras,
mereka menjatuhkan diri di atasku, astaga aku tidak bisa bernafas!
“Arasseo! Arasseo! Hyung.. Bisakah kau berdiri.. A-aa-kkuu
tii-da-dak b-bb-bisa ber-naa-fasss..” Mereka tetap menindihku, bahkan tidak bergeser
sedikitpun. Aku mencoba mengeluarkan tangan dan melambaikannya, memberi isyarat
tanda menyerah. Saat itulah nafasku mulai kembali normal, mereka sudah berdiri
menyibak selimut yang kemudian melemparnya ke lantai.
“Kami harus menunggumu dengan mata bengkak karena tak tidur, kau
malah tidur dengan enaknya terbungkus selimut tebal!” Protes Yoseob yang
sekarang sudah mulai mencekikku. “Teruskan Sobie ah~ Aku akan sangat senang
kalau kau mewakili kami melakukannya.” Timpal Junhyung hyung yang sekarang sedang
duduk mengamati aku yang berusaha menghindar dari cekikan Yoseob. Wajahnya
menyunggingkan senyum setannya. Aku serasa mendengar tawa bahagianya sekarang.
Hyunseung hyung yang sudah ada di sampingku mencoba merapikan bantal dan
selimut yang sekarang sudah terlempar dari arena pertempuranku dan Yoseob.
“Yaa~ Hyunseung Hyung! Kau masih mengkhawatirkan nasib bantal dan
selimut itu padahal aku di depanmu sedang dalam bahaya besar!” Tangan Yoseob
sudah meraih leherku saat Dujun hyung menariknya untuk menjauh. Tangannya
mengangkat telinga Yoseob, sadar dengan keadaan yang akan terjadi, aku buru –
buru bangun, namun tangan besar itu sudah mengangkat telinga kiriku, aku hanya
bisa meringis menahan sakit, begitu juga dengan Yoseob.
“Hentikan aksi saling membunuhmu. Pergi mandi sekarang juga, aku
beri waktu 5 menit dari sekarang, kalau telat, aku yang akan mencekik kalian!”
Perintah Dujun hyung sembari menyeret kami menuju kamar mandi. Dongwoon yang
sejak tadi diam mengamati kami, hanya menatap datar dan menggelengkan kepala.
***
Hari ini kami pergi ke studio untuk
latihan. Setelah pemanasan dalam bentuk yang tak wajar dalam dorm pagi tadi,
rasa kantukku sudah mulai berkurang. Jadwal kami semakin padat bahkan setelah
show terakhir dalam world tour tahun ini. Selain mempersiapkan album baru
setelah hiatus 1 tahun 2 bulan, masing – masing member juga memiliki personal
schedule. Hyunseung hyung mulai sibuk dengan “Mozart”, Dujun hyung dan Sobie
yang harus record untuk MC, Junhyung hyung yang semakin matang dengan dunia
composingnya dan Woonie yang selalu sibuk dengan tugas sekolahnya. Jadi, aku
rasa tahun ini akan sangat melelahkan.
“Aku rasa suaraku mulai hilang
hyung” Ucap Dongwoon seraya memegang tenggorokannya dengan wajah khawatir dan
segera melemparkan diri ke kursi di ruang latihan. Dia terlihat sangat lelah,
tentu saja, kami bahkan tak memiliki waktu untuk istirahat secara “normal”.
Yoseob yang berjalan di belakangnya juga terhuyung – huyung saat berjalan. Dia
berulang kali menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan keras. Aku bisa
melihat Dujun hyung sedang berbaring di lantai dengan kedua tangan terlentang,
Hyunseung hyung dan Junhyung hyung juga melakukan hal yang sama. Aku yang masih
berdiri dapat dengan jelas merasakan bahwa kakiku mulai sedikit gemetar saking
capeknya.
“Woonie ah~ sepertinya aku akan
kehilangan kakiku.. “ gumamku sembari melepas sepatu dan melemparnya jauh dari
posisiku. Pergelangan kakiku mulai berdenyut hebat, terasa panas dan nyeri saat
aku menyentuhnya. Warna kebiruan mulai nampak disana, aku benci menyadari bahwa
aku akan segera memakai gips lagi.
“Arrgh!” Teriakan itu sontak membuat
kami menoleh kearah sumber suara, Dujun hyung sudah berdiri, wajahnya terlihat
kaget menyadari sesuatu yang baru saja terlintas dalam pikirannya, Yoseob yang
terlampau kaget langsung reflek membuka tangan dan membuat microfon dalam
genggamannya jatuh menggelinding. Apapun yang baru saja didapatkan dalam
pikiran sadar Dujun hyung, aku rasa bukanlah hal yang baik. Dan, apapun yang
aku pikirkan tentangnya, adalah sebuah kebenaran.
“Kalian, berdirilah. Aku punya
sesuatu yang akan membawa kita keluar darisini Bahkan sebelum waktu yang
ditetapkan” Matanya mulai menerawang, seulas senyum mulai tampak di sudut
bibirnya. Ini benar – benar pertanda buruk.
Wow~
Im here with you in this chapter guys! *Clap clap clap
I
finished this chapter so long chingu, really bad when I remember that, Fiuuh
[Wipe sweat]
But,
I can update this story properly. Heeeheee *Evil smile!
Im
thinking of so many backgrounds in this chap, but I hope you can make your own
setting as well.
Don’t
ever imagine me like those I wrote above, nae? ^^
I
was make some joke to you, khekhekhe
Back
to the story, I feel great when I finishied write it. And more overwelhming
when I found something that I can use in next chap. My friends just told me,
“When would you wanna face to facing Soo Yoo and Gi Kwang Oppa?” I was shock to
heard that kind of question.. Really, I
never think of that before, I mean I should make an unbelievable meeting
between both of them, nae? J Is
that real that I am an author of this story? --“
Alright!
Enough for my yelling.. wkwkwk
Enjoying
that beloved story, nae?
And,
do not forget to supporting me, your support were my precious thing!
Okay,
Arthemis_Chan still OL, but I have to close my word.
Saranghaeyo
yorobun... Gomawoyo ^^
Love
you as always.

0 komentar:
Posting Komentar