Rabu, 24 Oktober 2012

Chapter 2 ”Killing Schedule!”

00.53



Aku benar – benar akan mati hari ini, sungguh. Dan tentu saja, itu bukan merupakan aksi bunuh diri yang akhir – akhir ini sering terjadi. Aku rasa sejak hari itu, nasib sial sudah mendarah daging di hidupku, makanya apapun yang aku lakukan akan mengundang berbagai macam kesialan yang tidak masuk akal. Dan itu berlanjut sampai hari ini!
            “Soo Yoo shi, mana tugas yang saya berikan minggu lalu?” Aku sudah tahu bahwa lambat laun pertanyaan ini akan sampai padaku. Tapi aku tidak tahu kalau ternyata efek samping yang timbul akan sehebat ini.
            “Ah, ige.. Mianhamnida sonsaengnim, saya sudah berusaha membuatnya, tapi otak saya tidak mau memberitahukannya padaku” Lengkap sudah, aku bahkan bisa mendengar suara tawa satu kelas di ujung gedung ini, suara tawa mereka benar – benar mengerikan, memangnya mereka tidak pernah mengalami keadaan seperti ini apa, aku yakin mereka lebih buruk dariku. Coba lihat wajah mereka, aku bahkan tidak yakin kalau mereka bisa membaca!
            “Semuanya harap tenang!” Hong sonsaengnim meminta anak – anak yang lain untuk menghentikan tawa yang pecah karena ucapanku. Kemudian wajahnya kembali menatapku dengan raut wajah yang tak terbaca. “ Soo yoo shi, saya memberikan tugas itu satu minggu yang lalu, seharusnya kau mampu menyelesaikannya bukan?” Tanyanya dengan mata lurus menatapku. Aku mendesah sebelum menjawab dengan alasan yang mungkin bisa diterima oleh akal sehat, karena setahu ibuku apapun alasan yang aku buat akan membuat orang lain terkena serangan jantung.
“Jeongmal mianhamnida sonsaengnim, saya akan segera menyelesaikannya. Ini bukan masalah saya mampu atau tidak, tentu saja saya mampu. Tapi selalu saja ada sesuatu yang harus saya kerjakan terlebih dahulu, sehingga saya harus menunda membuat tugas tersebut, selain itu.. ” 
“Jadi, bisakah kau menjelaskan “sesuatu” yang membuatmu mengesampingkan tugas dari sekolahmu itu Soo Yoo shi?” Sela Hong Sonsaengnim. Baiklah, itu mungkin memang kesalahanku sebagai seorang murid, apalagi murid baru di sekolah yang menurut masyarakat adalah sekolah terbaik disini. Tapi apa peduliku dengan status sekolahku, semuanya sama saja. “Emm, itu.. “ Cepat Soo Yoo, cari alasan sebaik yang kau bisa, yang penting kau bebas dari situasi ini, situasi dimana semua orang melihatmu sambil menahan tawa dan kasihan.
“Itu.. “ ulangku mencoba mencari lagi alasan, namun sebelum usahaku nememukan titik keberhasilan tercapai, Sonsaengnim sudah angkat bicara yang membuatku semakin merasa akan terjadi hal lebih buruk lagi padaku. Dan itu benar.
“Besok kumpulkan 2 kali lipat essay yang saya minta, tulis dengan tangan.” Ucap Sonsaengnim yang sontak membuat mataku membelalak tak percaya, Besok? 2 kali lipat?! Tulisan tangan?!! Astaga, aku bisa membayangkan tanganku akan lumpuh kalau melakukannya. Aku masih berusaha mencerna kata – kata Sonsaengnim yang nyaris membuatku tumbang karena kaget. Ini salah, tunggu, ini salah. “Sonsaengnim, aku tidak bisa menulisnya dalam satu malam, apalagi 2 kali lipatnya, itu.. “ Gagapku mencoba mencari sedikit pertolongan pada Sonsaengnim yang kini sudah berbalik arah membelakangiku menuju ke depan. Usaha yang aku buat untuk mendapat sedikit keringanan justru membuatku semakin terbenam ke dalam jurang kematian harga diri. “Benarkah? Kalau begitu 3 kali lipat.” Ucap Sonsaengnim sambil menatapku tanpa ada rasa belas kasihan.
“Sonsaengnim, itu tidak adil! Kenapa jadi 3 kali lipat? 2 kali lipat saja aku belum tentu selesai.. “
“4 kali lipat Soo Yoo shi. Masih kurang?” Jawab Sonsaengnim ringan.
“Ne???!!!” Jawabku seraya bangkit dari kursi, bisa aku lihat semua murid memperhatikan aku yang sedang dalam keadaan mengenaskan, bahkan aku mendengar salah satu murid tak tahan lagi menahan tawanya dan mulai terkikik dengan tangan menutup mulutnya. Memangnya aku tuli, aku mendengarnya bodoh. Baiklah, aku rasa aku harus menghentikan usahaku meminta keringanan tugas, bukannya semakin ringan, tapi akan semakin berat jika diteruskan. Aku berfikir seraya mengibas – kibaskan tangan saat membayangkannya. Cukup Soo Yoo, akhiri sampai disini.
“Tidak Sonsaengnim, saya rasa 4 kali lipat su-dah sa-ngat cu-kup..” Jawabku dengan memberikan tekanan pada kalimat terakhir. Sangat cukup untuk membuatku mematahkan kelima jari, batinku.
“Bagus, saya rasa sekarang kita sudah bisa saling memahami Soo Yoo shi.” Sonsaengnim menjawabnya dengan wajah tersenyum menatapku. Omo.. Sonsaengnim lebih mengerikan dibanding dengan suara tawa anak – anak di kelas ini. Aku yang masih dalam posisi berdiri, mengangguk sembari menarik kembali kursi untuk duduk.
“Ne, geuresumnida Sonsaengnim..”
Hari ini untuk kesekian kalinya hal buruk datang meski aku sudah berusaha untuk mengusirnya. Aku bukan anak yang akan diam saja meratapi nasib, tapi semakin aku mencoba untuk memperbaiki nasib burukku, hal – hal yang lebih buruk justru akan datang saat aku berusaha memperbaikinya. Jadi, akan lebih baik kalau aku diam saja.
“Seharusnya kau terima saja tawaran terakhir, kau selalu saja menawar, makanya Sonsaengnim lebih menambah tugasmu.“ Aku hanya mengangguk – angguk mendengarkan Yoona yang sejak tadi menceramahiku dengan bahasanya yang sedikit berlebihan. Melihatku yang hanya mengangguk tanpa memperhatikan, Yoona melayangkan pukulannya dan mendarat tepat di kepalaku.
“Yaaa~! Itu sakit bodoh!” Protesku seraya mengelus – elus kepala yang mulai berdenyut panas. “Tanganmu kecil, tapi entah kenapa saat memukul bisa aku rasakan kekuatan besi yang muncul” imbuhku sambil menunjuk tangannya. Dia yang tidak terima kembali mengangkat tangan mengacungkan kepalannya. Aku hanya bisa mengangkat tangan untuk menyerah. “Eyy~ Aku hanya bercanda.”
“Kau memang tidak pernah serius.” Yoona menambahkan dengan nada sarkastis. Aku hanya diam dan tak menanggapinya. Aku benci dengan sebuah keseriusan, satu – satunya yang akan kau dapat setelah kau memutuskan untuk serius dengan apapun yang kau lakukan adalah penyesalan. Tidak ada yang lain.
“Kau mau kemana? Jangan bilang kau mau bolos lagi? Soo Yoo ah~ Hentikan itu atau kau akan mendapat lebih banyak lagi tugas yang tidak kau inginkan!” Selidik Yoona dengan setengah mengerang saat melihatku mengemasi buku dan alat tulis ke dalam tas. Memang benar, tapi aku harus pergi. Aku hanya menatapnya dengan mengacungkan jari telunjukku, memberikan kode diam pada Yoona yang sekarang sudah mulai panik.
“Aku tidak mau tahu lagi kalau sampai ketahuan. Sudah berapa kali aku melindungimu dengan alasan yang sama?” Tambahnya dengan wajah yang sudah mulai berkeringat karena khawatir. Iya juga, aku selalu memintanya untuk memalsukan alasan ketidakhadiran dengan alasan yang sama. “Kalau begitu carikan alasan yang lain, aku mengandalkanmu.”
“Arkhg, Molla.. Terserah padamu saja!” Teriaknya kesal.
Aku terkikik pelan, menyambar tas di atas meja dan berlari meninggalkan kelas. Aku melirik jam di pergelangan tangan, Sial, aku akan telat.


----------------------------


Point Of View            : Lee Gi Kwang


“Gi Kwang ah~ Cepat bangun!” Aku bisa mendengar Dujun hyung mencoba membangunkanku sejak 15 menit yang lalu. Aku sangat yakin dia sudah mulai naik pitam karena aku tak kunjung beranjak dari tempat tidur. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang aku benar – benar tidak ingin pergi latihan, rasanya tulangku sudah mencapai batas kemampuannya. Aku baru saja tidur 1 jam yang lalu!
“Aish.. Cepat bangun atau aku akan menyeretmu!” Tangan Dujun hyung mulai menarik selimut yang menutupku, aku mencoba tetap mempertahankan keadaanku yang berada dalam selimut, tangannya semakin kuat menarik, mencoba meraih lenganku agar keluar. Aku semakin beringsut ke dalam selimut, namun sekarang ada banyak tangan yang mencoba menarikku untuk keluar. Tangan – tangan itu mulai menarik lengan, kaki dan tubuhku. Tangan yang paling besar mencoba menggelitikku, sekarang aku merasa geli disekujur tubuh, semakin aku mencoba untuk melepaskan diri, gelitikan itu semakin terasa.
“Andwe! Andwe!” Erangku seraya menendangkan kaki ke segala arah, namun bukannya menjauh, sekarang aku merasa tertimpa ratusan karung beras, mereka menjatuhkan diri di atasku, astaga aku tidak bisa bernafas!
“Arasseo! Arasseo! Hyung.. Bisakah kau berdiri.. A-aa-kkuu tii-da-dak b-bb-bisa ber-naa-fasss..” Mereka tetap menindihku, bahkan tidak bergeser sedikitpun. Aku mencoba mengeluarkan tangan dan melambaikannya, memberi isyarat tanda menyerah. Saat itulah nafasku mulai kembali normal, mereka sudah berdiri menyibak selimut yang kemudian melemparnya ke lantai.
“Kami harus menunggumu dengan mata bengkak karena tak tidur, kau malah tidur dengan enaknya terbungkus selimut tebal!” Protes Yoseob yang sekarang sudah mulai mencekikku. “Teruskan Sobie ah~ Aku akan sangat senang kalau kau mewakili kami melakukannya.” Timpal Junhyung hyung yang sekarang sedang duduk mengamati aku yang berusaha menghindar dari cekikan Yoseob. Wajahnya menyunggingkan senyum setannya. Aku serasa mendengar tawa bahagianya sekarang. Hyunseung hyung yang sudah ada di sampingku mencoba merapikan bantal dan selimut yang sekarang sudah terlempar dari arena pertempuranku dan Yoseob.
“Yaa~ Hyunseung Hyung! Kau masih mengkhawatirkan nasib bantal dan selimut itu padahal aku di depanmu sedang dalam bahaya besar!” Tangan Yoseob sudah meraih leherku saat Dujun hyung menariknya untuk menjauh. Tangannya mengangkat telinga Yoseob, sadar dengan keadaan yang akan terjadi, aku buru – buru bangun, namun tangan besar itu sudah mengangkat telinga kiriku, aku hanya bisa meringis menahan sakit, begitu juga dengan Yoseob.
“Hentikan aksi saling membunuhmu. Pergi mandi sekarang juga, aku beri waktu 5 menit dari sekarang, kalau telat, aku yang akan mencekik kalian!” Perintah Dujun hyung sembari menyeret kami menuju kamar mandi. Dongwoon yang sejak tadi diam mengamati kami, hanya menatap datar dan menggelengkan kepala.


***

           
            Hari ini kami pergi ke studio untuk latihan. Setelah pemanasan dalam bentuk yang tak wajar dalam dorm pagi tadi, rasa kantukku sudah mulai berkurang. Jadwal kami semakin padat bahkan setelah show terakhir dalam world tour tahun ini. Selain mempersiapkan album baru setelah hiatus 1 tahun 2 bulan, masing – masing member juga memiliki personal schedule. Hyunseung hyung mulai sibuk dengan “Mozart”, Dujun hyung dan Sobie yang harus record untuk MC, Junhyung hyung yang semakin matang dengan dunia composingnya dan Woonie yang selalu sibuk dengan tugas sekolahnya. Jadi, aku rasa tahun ini akan sangat melelahkan.
            “Aku rasa suaraku mulai hilang hyung” Ucap Dongwoon seraya memegang tenggorokannya dengan wajah khawatir dan segera melemparkan diri ke kursi di ruang latihan. Dia terlihat sangat lelah, tentu saja, kami bahkan tak memiliki waktu untuk istirahat secara “normal”. Yoseob yang berjalan di belakangnya juga terhuyung – huyung saat berjalan. Dia berulang kali menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan keras. Aku bisa melihat Dujun hyung sedang berbaring di lantai dengan kedua tangan terlentang, Hyunseung hyung dan Junhyung hyung juga melakukan hal yang sama. Aku yang masih berdiri dapat dengan jelas merasakan bahwa kakiku mulai sedikit gemetar saking capeknya.
            “Woonie ah~ sepertinya aku akan kehilangan kakiku.. “ gumamku sembari melepas sepatu dan melemparnya jauh dari posisiku. Pergelangan kakiku mulai berdenyut hebat, terasa panas dan nyeri saat aku menyentuhnya. Warna kebiruan mulai nampak disana, aku benci menyadari bahwa aku akan segera memakai gips lagi.
            “Arrgh!” Teriakan itu sontak membuat kami menoleh kearah sumber suara, Dujun hyung sudah berdiri, wajahnya terlihat kaget menyadari sesuatu yang baru saja terlintas dalam pikirannya, Yoseob yang terlampau kaget langsung reflek membuka tangan dan membuat microfon dalam genggamannya jatuh menggelinding. Apapun yang baru saja didapatkan dalam pikiran sadar Dujun hyung, aku rasa bukanlah hal yang baik. Dan, apapun yang aku pikirkan tentangnya, adalah sebuah kebenaran.
            “Kalian, berdirilah. Aku punya sesuatu yang akan membawa kita keluar darisini Bahkan sebelum waktu yang ditetapkan” Matanya mulai menerawang, seulas senyum mulai tampak di sudut bibirnya. Ini benar – benar pertanda buruk.
           



Wow~ Im here with you in this chapter guys! *Clap clap clap
I finished this chapter so long chingu, really bad when I remember that, Fiuuh [Wipe sweat]
But, I can update this story properly. Heeeheee *Evil smile!
Im thinking of so many backgrounds in this chap, but I hope you can make your own setting as well.
I can imagine Soo Yoo, she was just like me when I try to bribe my teacher.
Don’t ever imagine me like those I wrote above, nae? ^^
I was make some joke to you, khekhekhe
Back to the story, I feel great when I finishied write it. And more overwelhming when I found something that I can use in next chap. My friends just told me, “When would you wanna face to facing Soo Yoo and Gi Kwang Oppa?” I was shock to heard that kind of question..  Really, I never think of that before, I mean I should make an unbelievable meeting between both of them, nae? J Is that real that I am an author of this story? --“
Alright! Enough for my yelling.. wkwkwk
Enjoying that beloved story, nae?
And, do not forget to supporting me, your support were my precious thing!
Okay, Arthemis_Chan still OL, but I have to close my word.
Saranghaeyo yorobun... Gomawoyo ^^
Love you as always.

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 GREEN NEWS 99. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top